Choice : Destiny -Part 1-

 

I

 

everything is a choice! | Go for it quotes, Motivation, Motivational quotes

      

 

Aku percaya jika ada dua orang yang disatukan dengan hati, tak penting seperti apa dia, dimana dia, tak kan ada batas maupun penghalang jika keduanya ditakdirkan bersama

 

          Alea mengayuh sepeda bututnya dengan kecepatan tingkat tinggi dan kecemasan tingkat tinggi pula, pasalnya Alea hanya punya waktu sepuluh menit lagi untuk sampai disekolah. Karena jika ia terlambat 5 detik saja, pintu gerbang sekolah akan ditutup oleh satpam kejam nan bengis di sekolah nya. Ini kali pertama ia berangkat sekolah sebagai siswi SMA Bintang Nusantara setelah satu minggu ditindas para senior (re : sok senior haha) dalam kegiatan MOS. Bahkan ia tak peduli dengan beragam raungan klakson kendaraan yang sejak tadi memperingatkannya untuk memperlambat kecepatan sepedanya. Yang ia pikirkan saat ini adalah : jangan sampai terlambat kalau tidak mau berurusan dengan macan sekolah, sebutan untuk senior sok galak.

*****************

          Gerbang SMA Bintang Nusantara yang terbuka lebar tampak di pelupuk mata, kurang sedikit lagi Alea sudah bisa sampai di sekolah tercintanya. Dengan penuh semangat  Alea menambah kecepatan sepedanya, namun naas sepersekian detik tiba tiba dirinya seakan melayang diudara. Belum sempat ia menikmati terbang di udara, pantatnya sudah mendarat sempurna di aspal. Sedangkan sepeda Alea masih terus melaju dan berakhir di selokan.

          Orang-orang langsung mengerubunginya, begitu pun pemilik motor sporty yang menyerempetnya tadi. Beberapa bergegas menolong Alea yang hanya duduk terdiam memandangi sepedanya. Sepeda pink kesayangannya yang saat ini hanya cocok untuk dijadikan pajangan benda antik karena bentuknya sudah tidak tertolong.

“Gimana mba? Kalo masih sakit ke dokter aja mba,”  ujar seorang bapak-bapak yang tadi memberinya obat merah dan plester.

“Gapapa pak, cuma lecet-lecet aja, makasih banyak ya pak”  ucap Alea tulus.

         Malu dan kesal dirasakan Alea saat ini. Memang kejadian ini bukan sepenuhnya salah di pengendara motor, dirinya pun ikut andil dalam kecelakaan kecil ini. Hanya saja, menurutnya bila si pengendara motor itu tidak menyerempetnya maka ia tidak ada menjadi tontonan orang sebanyak ini, dan yang pasti ia juga tidak akan terlambat di hari pertamanya masuk sekolah. 

        Sembari melepas helm fullface nya si pengendara motor mendekati Alea. Alea sekejap terpana ketika tanpa sengaja tatapan mereka bertemu.

        Mata itu... Batin Alea. 

        Walaupun Alea sempat mengagumi wajah tampan si pengendara motor, tetapi ia tetap tak bisa menutupi kekesalannya. Dengan menggebu-gebu Alea menyemprot pria itu dengan omelannya. 

        "Mau apa lo?! Bisa ngga si lo bawa motornya gausah pake nyerempet orang, sakit tau! Terus itu sepeda kesayangan gue, tapi sekarang dia jadi kaya gitu bentukannya, itu semua gara-gara lo!" omel Alea sambil menahan tangisnya.

“Sorry, kalo ada apa apa, ini kartu nama gue” ujar si pengendara motor itu singkat sambil menyerahkan kartu namanya lalu beranjak pergi.

          Hati Alea mencelos. Untuk semua emosi yang sudah ia keluarkan dan rasa perih yang ia tahan karna lukanya, dengan santainya pria itu hanya memberinya kartu nama. Sungguh bukan hal yang ingin Alea dapatkan.  

Sialan! Awas aja lo kalo ketemu lagi! umpatnya dalam hati.

 *****************


Di sekolah

          Alea menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan melalui mulut mungilnya. Seakan disetiap tarikan dan hembusan terdapat banyak sekali problema yang belum terselesaikan. Alea selalu seperti itu jika ia sedang gugup. Sebentar lagi ia harus siap menerima omelan dari guru bk, kakak kelasnya, wali kelasnya gara-gara ia telat masuk sekolah. Belum lagi omelan dari papanya bila tau Alea melenyapkan sepeda dan pulang dengan goresan-goresan luka disekujur tubuh. Papanya sudah pasti akan semakin ketat menjaganya.

          Baru saja Alea melewati gerbang sekolah, sudah terdengar teriakan dari…

“Heh kamu! Anak baru! Cepat ikut kami keruang OSIS!”

Ya Tuhan tolong lah hambamu yang malang ini, doa Alea dalam hati.

 

***********

 

Wajah kusut Alea terpampang nyata setelah keluar dari ruang OSIS tadi. Alea heran mengapa kakak kelasnya begitu semangat memarahinya. Padahal menurut Alea ia hanya telat, itu hal yang wajar bukan, apalagi ia telat karena kejadian tadi,

Aaaahhhhhhhh

Sesampainya di ruang kelas X-5, jam pelajaran pertama telah dimulai. Alea mengintip dari jendela. Bu Poerwanti, guru bahasa Indonesia sedang berbicara di depan kelas. Dengan hati-hati Alea mengetuk pintu, dan menampilkan senyum konyolnya.

“Emm…ee..maaf bu saya telat” ujar Alea sembari menunduk. Ia takut akan ada omelan babak dua.

“Masuk, sini kamu!” kata Bu Pur, sapaan Bu Poerwanti.

“Kenapa kamu telat dan kenapa itu dahi lalu lengan kamu ?” lanjut Bu Pur.

“Ini anu bu, itu, saya tadi mengalami sedikit kecelakaan” jawab Alea terbata bata.

“Yasudah cepat duduk di tempatmu.”

“Baik bu,”

“Baiklah untuk tugas permulaan kalian, ibu ingin kalian membuat karya tulis dengan tema ‘IBU’ , boleh puisi, pantun, cerpen, ataupun yang lainnya. Dikumpulkan minggu depan saat pelajaran saya. Mengerti ?” Titah Bu Pur.

Hati Alea berdesir seketika, bukan karena tugas yang diberikan melainkan tema yang diharuskan. Mengapa harus ibu ?

Kriingggg………Kringgg……….

Bel berdering dengan nyaringnya menandakan waktu istirahat telah tiba.

 

**********

         

        “Al ikut gue yuk, liat latihan anak basket, katanya sih mereka mau ikut kejuaran nasional gitu” Ajak Jessika. Jessika merupakan sahabat Alea sejak sekolah dasar. Mereka juga bersekolah di SD, SMP bahkan SMA yang sama.

          “Ayuuuk deh Jes, barangkali ada yang kece gitu kan, haha”

          “Ah elo mah”

        Lapangan telah dipenuhi oleh anak kelas 10 hingga kelas 12, sebagian besar mereka merupakan kaum hawa yang rela menunda makan siang hanya untuk melihat cowo cowo pujaan hati mereka. Harus diakui memang bahwa anggota klub basket dan cheerleader SMA Bintang Nusantara memiliki paras yang rupawan jika dibanding dengan anggota klub klub lainnya. 

          “Al, liat deh nomer sebelas! oke kan?!,” tanya Jessika sambil menunjuk pemain dengan nomer punggung 11. Sejak awal Jessika memang menaruh hati pada cowok itu.

        “Gue liat liat, dari tadi lo cuma ngeliatin tu cowo doang, suka lo?” Bukannya menjawab, Alea malah balik melempar pertanyaan kepada Jessika.


       “Hehe.., BANGET ALEA!!! mana ada sih cewe yang ga suka kalo kaya gitu bentukannya, dia itu ibarat Andra and The Backbone” jelas Jessika menggebu-gebu.

          “Hah?! Kok Andra and The Backbone si?” tanya Alea dengan raut wajah bingung.

         “IYA KARENA DIA SEMPURNA HAHHAHA

          Alea hanya bisa mengelus dada mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Begitulah Jessika jika sedang jatuh cinta. 

         “Oh iya Al, lo belom cerita kenapa tu jidat sama tangan lo bisa sampe kaya gitu? gelud lo di jalan? Tanya Jessika penasaran. 

          “Sembarangan lo kalo ngomong, kecelakaan gue, diserempet motor sport di lampu merah noh. Ngeselin banget tau ngga si Jess yang nyerempet gue

         Cowo apa cewe Al? Masi muda apa gimana?Eh tapi lo gapapa kan? Lo masih inget gue kan Al?” Tanya Jessi asal

         Cowo, keliatannya si anak SMA tapi gatau gue SMA mana, abisan tu orang pake jaket” Jawab Alea sedikit kesal karena kembali teringat kejadian tadi pagi.

         OMG!!! Jessikaaaaa, nomor sembilan itu Jes yang nyerempet gue!”

          “Serius lo Al? Jangan ngadi-ngadi dah lo”

          “Iya Jessi, namanya Ardito Prawira kan?”  Ujar Alea lebih yakin.

          “Terus lo mau apa Al?” Tanya Jessika.

         “Ya mau nyamperin dia dan sedikit kasih pelajaran lah, nih dia ngasih gue kartu namanya,” Jawab Alea sambil menunjukkan kartu namanya.

          “Wooaahh, beruntung banget lo Al, jarang-jarang ada yang bisa dapet kartu namanya, kak Dito kan terkenal dingin kalo sama cewe. Goodluck aja deh Alea ku sayang haha,” cerocos Jessika.

 

************

Comments

Popular Posts